Rabu, 26 Desember 2007

Logika fuzzy - Logikanya sang kompromis

---

Manusia-manusia 'rigid' (kaku, picik, jumud) adalah sekelompok manusia yang menyempitkan sendiri ruang gerak hidupnya. Pola pikirnya mirip dengan logika tradisional mesin (komputer) yang hanya berprinsip 'ya' dan 'tidak' atau secara digital disebut 1 dan 0. Manusia-manusia 'rigid' atau yang semacamnya ini tak mengenal tahapan (marhalah) dalam mencapai target 'ideal'-nya sehingga seringkali mengalami benturan setiap berhadapan dengan kondisi alamiah manusiawi (bisa juga dibaca : tak mengenal konsep realita/waqi). Adalah salah kaprah ketika kalangan awam terlanjur menyebut manusia-manusia semacam ini sebagai manusia yang idealis apalagi tegas. Jangan salah ! Kenapa ?

---

Moral filosofis

Idealis yang benar harus muncul dari pemahaman yang komplit tentang sesuatu yang diidealiskan. More...Sementara manusia-manusia 'rigid' tersebut justru terlahir dari sempitnya pemahaman dia dan dilanjutkan dengan ketidak-sudiannya memandang suatu fenomena dari sisi yang berbeda. Baginya sisi permasalahan itu hanya satu, yaitu sisi yang hanya ia [mampu] fahami itu [saja]. Sehingga prinsip holistikal, multi 'attitude', 'team work', fiqh awwaliyat, fiqh waqi', fleksibelitas, dialogis dan seterusnya adalah prinsip-prinsip yang sulit sekali diterimanya, dan malah menjadi kebanggaan untuk tak memanfaatkannya. Prinsip yang mudah dicerna dan dilakoninya adalah subjektif, egois, agresif, revolusif dan sangat antusias menyerang salah-lalai manusia lain.

Akhirnya, jika prinsip seperti ini 'konsisten' dipertahankan, maka besar peluang baginya untuk menjadi pesaing robot masa depan. :-o

---

Di pihak lain, manusia-manusia kompromis selalu mempertimbangkan realita dalam mencapai target idealisnya. Manusia 'rigid' bisa saja menuduh sang kompromis sebagai manusia munafik, bunglon, inkonsistensi dan yang semacamnya. Tetapi bersamaan dengan berjalannya waktu, lebih sering terbukti bahwa sang kompromis dengan karakter 'evolusioner'-nya mampu mencapai apa yang sesungguhnya ingin juga dicapai oleh kelompok rigiditas.

Di ranah pragmatis, usaha interaksi sang kompromis terhadap ketidak-ideal-an realita seringkali disangka sebagai bentuk inkonsistensinya.

Oleh karena fenomena 'realita' umumnya tidak ideal, dan fenomena 'ideal' tak sederhana untuk segera diterap-penuh-kan di realita, maka 'ijtihad' perjuangan sang kompromis [barangkali] bisa meminjam konsep logika fuzzy.

---

Fuzzy, logika sang kompromis

Logika fuzzy sering juga disebut logika modern, sehingga logika yang sebelumnya (boolean) menjadi disebut logika tradisional.

Logika tradisional menilai fakta hanya berdasarkan 2 keadaan yaitu 'true' dan 'false' atau 'ya' dan 'tidak' atau 1 dan 0. Logika seperti ini sukses ketika diterapkan ke mesin (komputer), sehingga disebutlah komputer sebagai mesin biner, mesin yang bekerja berdasarkan 2 keadaan.

Komputer berhasil mempermudah banyak pekerjaan manusia yang berkaitan dengan tugas pengolahan. Kebutuhan pengolahan dengan data masukan yang berasal dari fakta 'alamiah' sejauh ini mampu diolah oleh mesin komputer selagi dapat dinyatakan bentuk kuantisasinya. Akibat kebutuhan kuantisasi ini maka data alamiah yang pada umumnya bukan dalam bentuk kuantitas (tetapi kualitas) tersebut dipaksa oleh sistem komputer untuk diolah menurut pengolahan kuantitas (pengolahan angka biner), sehingga sedikit banyak tentu hasil pengolahan tersebut mengandung efek reduksi terhadap karakter alamiah di awalnya.

Dulunya fakta-fakta alamiah sedemikian hanya dapat di-mapping [paksa] ke kondisi true dan false saja, padahal secara manusiawi tidak semua fakta sesuai untuk direlasikan ke kedua kondisi tersebut.

Manusia secara realita ternyata memiliki pilihan lain yang bukan 'ya' (true) dan bukan juga 'tidak' (false). Tidak perlu pusing untuk memikirkan apakah ini manusia baik atau tidak karena ini 'bawaan' realita. Lalu, jika kondisi seperti ini hendak dibuatkan modelnya untuk sistem komputer, bagaimana men-siasatinya?

Berkaitan dengan ke-'rigid'-an logika komputer tersebut dan dalam usaha mengatasi permasalahan di atas, telah diusulkan oleh Dr. Lotfi Zadeh (Keturunan Iran) dengan sistem yang disebut fuzzy logic.

Logika Fuzzy mampu meng-akomodasi kondisi selain dari true dan false atau 1 dan 0 saja. Jadi dengan logika ini, pernyataan fakta (yang di pemrograman istilahnya kriteria) bisa lebih banyak variasi nilai (respon)-nya dibandingkan hanya sekedar : true dan false.

Pernyatan logika pemrograman seperti ini :

if (tinggi=165) then {action}

menjadi dapat dinyatakan dengan :

if (tingginya adalah lumayan) then {action}.

Perhatikan bahwa tanggapan terhadap kriteria contoh pertama (tinggi=165) hanya dua kemungkinan yaitu true (benar tingginya 165) atau false (tidak benar tingginya 165), tetapi tanggapan terhadap kriteria di contoh kedua (tingginya adalah lumayan) sangat relatif : bisa ya, bisa tidak, bisa mungkin, barangkali, dan seterusnya ('lumayan' itu tinggi pastinya berapa, kan gak jelas).

Pernyataan logika model yang kedua ini sekarang mungkin untuk digunakan bahkan diproses lebih lanjut dengan menerapkan logika fuzzy tadi.

Bagaimana fuzzy dapat melakukan ini ?

(Dari sini indahnya pengetahuan kita mulai... OK ?)

Sebelumnya baca dulu sejumlah sumber lain, contoh :

http://id.wikipedia.org/wiki/Logika_Fuzzy

Simpul [Penutup] sementara ini

(1) Sang (manusia) kompromis selalu mempertimbangkan realita dalam mencapai target idealisnya. Manusia 'rigid' bisa saja menuduh sang kompromis sebagai golongan : munafik, bunglon, inkonsistensi dan yang semacamnya. Tetapi bersamaan dengan perjalanan waktu ternyata lebih sering terbukti bahwa sang kompromistis dengan karakter 'evolusioner'-nya mampu mencapai apa yang sesungguhnya ingin juga dicapai oleh kelompok rigiditas.

(2) Logika Fuzzy mampu meng-akomodasi kondisi selain dari true dan false atau 1 dan 0 saja.

0 komentar: